Proliman
meninggalkan memori;
akan
jalan yang selalu dilewati dari monginsidi menuju halte bis kota di siang hari
Setia
menunggui atmo, berdesakan, bau kecut, kondektur manis atau sinis dibalut aroma solar buat hidung kembang kempis
Proliman
meneteskan air mata;
saat
ibu mengantar saya menuju tempat baru, yang setiap hari aku singgahi tuk menuai
ilmu, lalu motor secara tak sadar mengempaskan badan yang sedang berjalan
Proliman
menjadi saksi;
bahwa
setiap bel selesai berbunyi, aku tak ikut kemana-mana-segera pulang menanti
kemudi yang lalu lalang datang dan pergi
Proliman
mendengar;
jejak
langkahku buru-buru habis dikejar waktu, pak satpam tak lagi membukakan pintu
Cukuplah
jalan bisu itu mengerti apa-apa dalam benakku yang kusimpan pelan-pelan
Tak
akan bilang ke orang banyak, tersebab
lebih peka darimu