Sabtu, 03 September 2016

Proliman dalam Aku





Proliman meninggalkan memori;
akan jalan yang selalu dilewati dari monginsidi menuju halte bis kota di siang hari
Setia menunggui atmo, berdesakan, bau kecut, kondektur manis atau sinis dibalut  aroma solar buat hidung kembang kempis

Proliman meneteskan air mata;
saat ibu mengantar saya menuju tempat baru, yang setiap hari aku singgahi tuk menuai ilmu, lalu motor secara tak sadar mengempaskan badan yang sedang berjalan

Proliman menjadi saksi;
bahwa setiap bel selesai berbunyi, aku tak ikut kemana-mana-segera pulang menanti kemudi yang lalu lalang datang dan pergi

Proliman mendengar;
jejak langkahku buru-buru habis dikejar waktu, pak satpam tak lagi membukakan pintu
Cukuplah jalan bisu itu mengerti apa-apa dalam benakku yang kusimpan pelan-pelan
Tak akan bilang ke orang banyak,  tersebab lebih peka darimu

1 komentar: